Masih segar di pikiran ku, minggu pagi itu, kawan seperjuanganku menuju jenjang pernikahan. Suatu pernikahan yang tak saya sangka sebelumnya. Karena teman saya itu seolah tidak menampakkan "gejala" dia akan menikah.
Betul juga, jodoh itu seringkali tidak disangka. Saya tahu beberapa orang yang berusaha mendekatinya, dan saya sempat "iseng" kepada mereka berdua. Cie-cie. Dan ternyata kenyataan berkata lain.
Sudah selesai intermezzo nya. Kita lanjut.
Dan di akad pernikahan itu, ustadz Miftah, memberikan wejangan kepada kedua pengantin. Kepada mereka, beliau berkata janganlah menuntut hak dan kewajiban dalam rumah tangga. Akan tetapi, niatkanlah pernikahan sebagai perkhidmatan. Perkhidmatan istri terhadap suami, suami terhadap istri. Jika nanti sudah punya anak nanti, perkhidmatan harus terbentuk antara anak dengan kedua orang tuanya, kedua orang tua kepada anak. Berlomba-lombalah dalam perkhidmatan.
Dengan niat sebagai perkhidmatan, kehidupan rumah tangga akan menjadi sakinah. Kemudian, dari sakinah itu Allah akan memberikan mawadddah, dan rahmah. Kedua yang terakhir itu tidak muncul tiba-tiba, keduanya harus diusahakan melalui jalan sakinah. Dan jalan sakinah itu bisa ditempuh dengan cara perkhidmatan.
Mungkin diantara kita tidak banyak yang mengetahui kata ini. Perkhidmatan, berasal dari kata khidmat. Saya mengartikan perkhidmatan sebagai tindakan yang dilakukan semata-mata dorongan dari hati nurani, tanpa mengharap balasan atau pamrih. Dan dalam perkhidmatan ada pengorbanan, baik itu waktu, peluh, bahkan darah. Dan pengorbanan adalah tanda cinta.
Berbeda ketika menggunakan paradigma hak dan kewajiban. Ada yang menuntut, ada yang dituntut. Ketika ada kekhilafan, misalnya, maka keributan tak akan terelakkan. Dan tidak ada toleransi di dalamnya keluarga tersebut. Bukankah manusia biasa seperti kita itu tak luput dari kesalahan?

0 komentar:
Posting Komentar