katanya harus improve?
wishing tomorrow never comes, wishing different tomorrow
Lost (Again)
Sepertinya, aku harus memulai pencarianku lagi...
Mungkin waktu itu aku sudah terlalu nyaman dengan dimana diriku berada. Sehingga, seolah-olah diriku sudah berada dilingkungan yang tepat. Mereka yang berada di sampingku adalah saint yang pasti orang-orang yang tulus hatinya dalam berbuat baik
Kini, kenyamananku digoyahkan. Terlihat mereka yang bersabda untuk melakukan kebaikan, namun yang dilakukan dalam keseharian malah sebaliknya. Meski tak semuanya seperti itu di lingkunganku, namun tetap saja tak nyaman. Orang yang selama ini kupercaya berkhianat. Yang aku kagumi ternyata tak berbudi baik seperti apa yang telah disampaikannya.
Dan mereka tak mempedulikan diriku, seolah aku tak pernah ada di dunia ini. Namun ketika mereka butuh, mereka menghampiri dan mendekatiku dengan "kebaikan" mereka, sampai sulit bagiku untuk berkata tidak. Ketika kulakukan apa yang mereka minta, mereka meminta lebih dan menghukumku jika tak berhasil memenuhi harapan. Mereka menghukum dengan segera mengucilkanku. Walaupun, jika kerjaku baik dan memenuhi harapan mereka, aku dipuji dan tak lama aku kembali dilupakan.
Hingga pada waktunya aku diperlukan, dan lingkaran setan itu kembali berulang.
"Kebaikan" itulah yang sepertinya membuatku terlena, lupa akan apa yang sebenarnya terjadi. Dan perasaan ini semakin intens. Perasaan terluka dan juga kesendirian.
I'm snapped.
Saatnya aku terbang kembali, berharap Tuhan menunjukkan tempat yang lebih baik, dan semoga yang terbaik.
Sepi
Belakangan sedang merasa sedih, sedih sekali.
Rasanya
orang-orang menjauh dariku. Entah… Entah hanya perasaanku saja, entah bagaimana…
Tapi seperti itu rasanya, orang-orang semakin menjauhiku. Entah karena apa.
Semakin kupikir, semakin aku tak tahu mengapa.
Orang yang kurasa ia paling baik pun, kini menjauh entah
kenapa. Ada kesempatan mengobrol, namun selalu seperti menghindar. Entahlah, namun
begitu aku lihat. Apa salahku? Jika bertanya tak menjawab, maaf, itu aku karena tak tahu harus menjawab apa. Kesulitan hidupku membuat semua jadi buyar.
Di lingkungan luar, rasanya seperti dikucilkan. Mengirim
pesan tidak dibalas. Kalaupun dibalas, hanya seperlunya. Ketika mereka ada
perlunya saja. Setelah itu, hilang. Hanya ketika butuh saja. Tak pernah ngobrol
santai. Layaknya manusia yang bercanda tawa. Tak ada seperti itu.
Aku menjadi bagian mereka, secara formalitas. Namun, yang kurasa aku hanyalah dijadikan bagian ketika butuh, selebihnya dibuang. Dikucilkan, tak pernah jadi bagian komunitas. Tak dianggap. Jika tak terdengar kabar, mungkin dianggap aku sudah mati. Apa salahku?
Demikian, di lingkungan dalam keluarga. Sudah
hancur, tak saling peduli. Kehidupan serba tidak menentu. Ditambah kesepian ini, semakin lengkaplah penderitaan hidup.
Jika saja ada yang mengulurkan tangan bagiku, hidupku tak akan sebuyar ini. Setidaknya, ia atau mereka yang menganggapku bukan sebagai alat yang hanya memenuhi kebutuhan dia. Namun, seperti manusia yang saling memberikan perhatian dan kasih sayang.
Tapi, sepertinya itu hanya sebuah khayal ya?
Rasanya sepi, sepi... Kesepian.
Apa yang salah? Tak pernah kutemui jawabnya. Bagaimana aku memperbaiki jika tidak tahu apa yang harus diperbaiki?
Lelah hidup seperti ini...
Kapan ini berakhir?
kutukan modern 202x
Lelah dengan kehidupan modern sekarang ini. Tak kutemukan lagi kehidupan yang disebut "fulfilling" itu. Hidup dimana setiap detiknya terasa berharga, penuh rasa. Sekarang aku tak merasakan apa-apa. Hari demi hari hanya lewat begitu saja.
Sudah berapa tahun aku seperti ini ya? Mungkin, setelah aku lulus sekolah dan menjadi mahasiswa. Mulai kurasa hidup ini mulai jadi abu-abu. Tidak ada warnanya. Tak ada kenangan yang bisa kukenang yang bisa setidaknya memberikan semangat di hari-hari yang hampa, dan penuh tekanan, di hari-hari itu. Rasanya, semenjak aku lulus sekolah, jarum jam sudah berhenti berputar, dan warna-warna pudar.
Ingin rasanya bisa kembali lagi ke masa-masa penuh warna itu, meski aku tahu itu tidak akan pernah mungkin lagi. Hanya bisa menangisi. Atau kembali hidup seperti masa itu.
Tak semua orang ingin tahu betapa bencinya aku pada bagaimana ponsel cerdas modern bekerja membebani mental. Aku mencintai teknologi, tapi membenci bagaimana ia "menghubungkan" dengan sesama manusia. Cara kerja benda itu untuk menghubungkan hubungan manusia itu kini membuat diriku, perasaanku sakit, sesungguhnya. Ketika aku bisa berhenti menggunakannya, di saat itulah hatiku mulai lega, di saat itulah aku mulai bisa tenang. Aku mencintai teknologinya, namun aku benci bagaimana "keterhubungan manusia" akibatnya.
Walaupun seolah kontradiksi dengan keinginanku yang ingin membangun hubungan yang humanis dengan mereka yang mau, tapi demikian tidaklah kontradiksi. Aku ingin terhubung, namun bukan keterhubungan yang kopong dari chat-chat WhatsApp.
Dan bagiku, WhatsApp adalah stressor berat dalam hari-hariku. Dari aplikasi itulah mulai pertama traumaku, dan sampai sekarang jantungku pasti berdebar kalau menerima notifikasi WhatsApp. Semua stresku bermuara darinya. Aku ingin mencoba aplikasi lain, tapi siapa yang menggunakan? Dan kelak apakah efeknya akan sama saja?
Aku merindukan masa-masa SMS. Walau sama-sama teks dan bahkan memerlukan receh yang cukup banyak untuk mengirimkan 160 huruf, ia memiliki rasa yang beda. Keterhubungannya masih sangat terasa.
Apakah ini kutukan dunia modern?
Kerja maksimal tidak pernah diapresiasi,
Salah sedikit dicerca,
Ada masalah tak pernah mau dengar apa kendalanya,
Pekerjaan terlambat karena terhambat masalah,
Harus dikerjakan depan mata.
Segera!
Capek.
Teringat lebaran-lebaran yang lalu, terutama ketika masih jaman SMS. Rasanya rame sekali inbox SMS di saat menjelang lebaran. Satu demi satu orang mengirimkan pesan "Mohon maaf lahir batin" dengan segala variasinya. Percaya atau tidak, meski kita tidak tahu apakah itu SMS broadcast atau bukan, menerima SMS seperti itu menyenangkan, dan membalasnya menghubungkan kembali tali silaturahmi. Padahal, SMS itu berbayar dengan limitasi 160 karakter. Kadang pesan lebaran itu bisa lebih, sehingga masuk biaya 2 SMS.
Maju kini ke era media sosial. Perpesanan semakin kaya dan juga murah. Bermodalkan internet yang bisa dari kuota milik sendiri atau nebeng milik orang lain. Namun, yang menjadi kontradiksi (atau bahkan ironi?) adalah lebih sulit menghubungkan tali silaturahmi. Tak ada lagi pesan-pesan seperti di SMS itu. Jarang (atau bahkan tidak ada?) niat tulus untuk saling memaafkan dan juga membangun lagi silaturahmi 1:1. Apa-apa lewat grup chat. Tidak ada spesialnya.
Di satu sisi teknologi memudahkan, namun karena mudahnya orang lupa akan esensi dari teknologi itu: keterhubungan manusiawi.
Dan pada sisi lainnya, bisa jadi aku sendiri memutuskan tali silaturahmi. Terutama di saat-saat ego-ku sedang tinggi-tingginya. Tentang apapun; agama, teknologi, dsb. Namun kiranya, dengan tulus, maafkan aku atas keakuan ku itu. Mari kita kembali menghubungkan tali silaturahmi.
Mohon maaf lahir batin.
Aku pun manusia. Punya perasaan, punya emosi.
Dan aku benci dipermainkan.
Meski aku pernah mempermainkan, dan aku baru tahu kalau mempermainkan seperti
itu. Karma? Mungkin.
Namun tetap saja
aku benci dipermainkan. Tak peduli dikata egois atau apa.
Dan dipermainkan
di lingkungan yang sudah kau percaya tak beda jauh menyakitkannya ketimbang
dipermainkan di dunia percintaan. Dan, kau tahu? Mempermainkan sama saja meluluhlatakkan
kepercayaan. Merusak kepercayaan, yang sering kali tak terasa pentingnya
apa. Atau memang tak penting karena aku tak punya power.
Siapa yang tak senang mendapatkan kesempatan berkembang yang
jelas? Rasanya seperti disayang. Dan
kemudian oleh alasan yang konyol, kamu ditendang dan kesempatan itu
dihilangkan. Seperti anak yang memeroleh kasih sayang dan di satu waktu ditendang
keluar dari rumah yang alasannya... Ada adik baru.
Demikian, apa yang terjadi padaku. Aku menangkap kursiku digeser menjadi di ujung
dekat pintu. Tak elok ada kursi di ujung pintu. Tendang, クソヤロ.
Dan jangan tanya,
dalam konteks itu saya memang sentimen ke salah satu identitas tertentu. Dan
untuk urusan serius, saya memang sudah tak memercayai pemegang identitas
tersebut. Tak perlu diceritakan
seperti apa identitasnya. Silakan berspekulasi, selamat menguras energi.
Kalau kau
menyangka aku seperti malaikat yang pemaaf, salah besar. Aku pun manusia, bukan
malaikat yang begitu pemaaf. Dan aku tak akan pernah menjadi seorang malaikat.
Karena apa? Orang yang kupanuti seperti malaikat pun ternyata
membuatku kecewa dengan omongan malaikat dan perilaku iblis.
