Mimpi (1)
Label: laskar pelangi, Nidji, semangat, tuna grahita, tunagrahitaMimpi adalah kunci
Untuk kita menaklukkan dunia
Berlarilah tanpa lelah
Sampai engkau meraihnya
Kawan, sudahkah kau tahu kekuatan dari mimpi? Mimpilah yang membuat segalanya ada, yang membuat semangat hidup muncul, yang membuat kreasi terus ada. Kawan, indahnya bermimpi. Mimpi adalah rahmat Tuhan yang amat sangat besar.
Kau tahu Wright Brothers? Merekalah sang pemimpi besar, yang mimpinya membuat kehidupan di dunia berubah drastis, yang membuat dunia lebih seru. Ruang, waktu, bukanlah halangan besar, berkat mereka. Antar negara dapat ditempuh dari yang semula berbulan-bulan menjadi beberapa jam saja. Ya, merekalah pencipta pesawat yang paling awal.
Laskar pelangi takkan terikat waktu
Bebaskan mimpimu di angkasa
Warna bintang di jiwa
Bermimpilah setinggi-tingginya kawan! Gantungkan mimpimu di atas langit, bersama bintang-bintang. Meskipun kata orang itu tidak mungkin, tapi percayalah kawan, "tak ada yang tak mungkin!" Tuhan telah menciptakan sebuah langit, dimana langit itu terdiri dari bintang-bintang harapan manusia. Dan bintang itu akan tetap bersinar terang jika kau percaya akan mimpi, terus bersinar, hingga kelak kau akan merasakan indahnya sinar bintang itu.
Menarilah dan terus tertawa
Walau dunia tak seindah surga
Bersyukurlah pada Yang Kuasa
Cinta kita di dunia selamanya
Kawan, meskipun kau memiliki keterbatasan, bukan berarti kau tidak bisa. Tuhan Maha Adil, kawan. Setiap orang diberikan nilai kemampuan yang sama. Di satu sisi lemah, di satu sisi kuat. Kau memiliki kekurangan, kawan. Tapi, kau punya yang belum tentu setiap orang punya. Kau bisa memahami apa yang orang lain tidak paham.
Tetaplah tersenyum kawan, kita akan selalu bersama, peganglah erat tanganku, saling melengkapi, bersyukurlah kepada Sang Pemilik Cinta.
Cinta kepada hidup
Memberikan senyuman abadi
Walau hidup kadang tak adil
Tapi cinta lengkapi kita
Tetaplah optimis dalam kehidupan, kawan! Carilah terus apa makna kehidupan itu. Jika kau telah menemukannya, aku yakin kau akan merasakan kebahagiaan yang tulus. Jangan lelah, bangkit, dan teruslah berjalan kawan!
Laskar pelangi takkan terikat waktu
Jangan berhenti mewarnai
Jutaan mimpi di bumi
(to be continued)
Cobaan itu rahmat-Nya!
Label: ar-Rahim, cobaan, Jalaluddin Rumi, kasih sayang, kebahagiaan, Tuhan
"Bahan-bahan yang digunakan ‘tuk menyamak kulit
Adalah cobaan baginya
Agar dengan itu dihasilkan kulit yang halus
Kalau kulit itu tidak direndam dalam bahan-bahan yang pahit
Dan tajam niscaya ia tetap keras dan berlendir..."
Begitulah kutipan sebagian rangkaian kata-kata yang indah dari Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri, atau yang kita sebagai Jalaluddin Rumi, seorang penyair sufi.
Kawan, aku ingin melanjutkan perkataan Jalaluddin Rumi yang hebat ini, supaya kau lebih mengerti lagi maknanya...
"... Bandingkan manusia dengan kulit tersebut
Sebelumnya ia berlumuran noda dan menjadi berat
Karena itu harus dituangkan kepadanya
Kepahitan dan penderitaan
Agar ia menjadi bersih, lembut dan cemerlang
Kalau engkau tidak bisa
Meningkatkan dirimu, wahai orang yang berakal,
Serahkan saja urusanmu kepada Allah
Agar dia terangkan kehidupan pahit kepadamu
Tanpa engkau usahakan sendiri
Cobaan dari Sang Kekasih,
Bagimu adalah pensucian
Dan ilmu-Nya berada di luar jangkauanmu."
Apakah kau sudah mendapatkan maknanya, kawan? Bagaikan sebuah baju putih yang bau dan kotor. Agar baju tersebut bersih putih seperti sedia kala, harus dicuci menggunakan pemutih. Dan apakah kau tahu, sekeras apa pemutih itu? Pemutih, jika lama kontak dengan kulit, akan membuat kulit menjadi gatal, bahkan melepuh. Dan jika terkena besi, besi itu akan mengalami korosi.
Dan kau tahu apa yang terjadi ketika baju tersebut keluar dari rendaman tersebut? Baju akan menjadi putih bersih. Tetapi, baju itu mengalami "siksaan" yang dilakukan oleh pemutih yang keras.
Itulah mengapa Tuhan menciptakan "ujian", kawan. Bukan untuk melakukan tes kepada makhluk-Nya, seperti yang dilakukan manusia kepada sesamanya. Tuhan menciptakan "ujian" sebagai sarana penyucian diri bagi manusia. Ujian adalah wujud kasih sayangNya kepada makhluknya.
Dan kawan, hidup ini tidak akan indah tanpa cobaan. Kau tidak akan pernah tahu mana yang indah jika kau tidak mengetahui cobaan itu seperti apa. Sekali lagi, cobaan merupakan manifestasi dari namaNya, ar-Rahim.
-------
"Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan."
Kau tahu kalimat itu kan, kawan? Itu adalah kalimat Tuhan yang menentramkan hati. Tuhan menjamin bahwa kesulitan akan datang bersamaan dengan kemudahan. Banyak orang yang beranggapan, bahwa kemudahan datang setelah kesulitan, habis gelap terbitlah terang. Sebenarnya, jika kita merenung lebih jauh, benar adanya bahwa kesulitan datang bersama kemudahan. Sebuah kesulitan tidak akan pernah menjadi lebih mudah dan kemudian menjadi mudah, dan akan tetap pada keadaan sulit, jika tidak dibarengi dengan kemudahan. Kalau kita analogikan sebuah baut berkarat sebagai kesulitan dengan pelumas sebagai kemudahan. Tentu saja, baut yang berkarat tersebut akan sulit untuk diputar. Dan jika kita beri pelumas, memutar baut tersebut akan menjadi lebih mudah. Itulah, "bersama kesulitan ada kemudahan."
Kawan, jangan terjebak. Kadang, dan sering sekali, sebuah nikmat yang amat sangat besar terbungkus oleh cobaan yang pedih. Kau tahu durian kan? Luarnya sangat berduri, tak sedap dipandang. Tetapi dalamnya -bagi penikmat durian- rasanya sangatlah enak.
Dan ada juga siksaan yang amat pedih terbungkus oleh kenikmatan dan keindahan. Buah Mahkota Dewa, penampakan luarnya indah, tetapi dalamnya amat beracun jika kau konsumsi begitu saja.
---
Eh kawan, ada salam cinta dari Tuhan untuk kita semua :D
---
Syair Jalaluddin Rumi dikutip dari: http://filsafatislam.net/al-adalah-for-teens-bukti-11c-faedah-keburukan-4-sarana-edukasi/
---
Syair Jalaluddin Rumi dikutip dari: http://filsafatislam.net/al-adalah-for-teens-bukti-11c-faedah-keburukan-4-sarana-edukasi/
Pendidikan (2)
Label: pemulung, Pendidikan, perenungan, potret masa kecil, Syukur
Maaf! Aku tertidur kawan! Kemarin rasanya tubuh ini sangat letih... Mungkin karena kemarin aku terlalu sibuk, sehingga aku pun baru punya kesempatan untuk bercerita denganmu di saat malam hari yang suntuk. Kita lanjutkan ya?
Kawan, di pagi yang dingin ini, aku baca surat kabar hari ini. Kulihat pada bagian bawah ada foto seorang gadis kecil imut berkerudung, dengan latar belakang penuh sampah bersama kawan-kawannya. Kulihat sekumpulan huruf tebal yang menyusun sebuah judul "Dari Mengais Sampah Sampai Seribu Cinta".
Ah!
Dialah Nurdiansih, seorang gadis cilik berumur 11 tahun, yang merupakan siswi kelas 3 di sebuah sekolah dasar negeri di daerah Cadas-Ngampar. Dia mengais kumpulan-kumpulan sampah yang dia temukan di tempat pembuangan sampah akhir, menyimpannya ke dalam sebuah kantong plastik, dan kemudian memberikannya kepada ibunya.
Tak kuasa kubayangkan, di sebuah tempat yang penuh sampah, bau yang sangat menyengat, matahari yang terik membakar kulit, dia masih kuat untuk mengais rezeki dari Tuhan. Diriku tak yakin, kawan, jika diriku menjadi dia, diriku masih kuat untuk menghadapi hidup ini...
...
Sebuah potret buram masa kecil. Anak kecil seharusnya bermain dengan riang, bahagia bersama kawan-kawannya. Mengenyam pendidikan agar kelak dirinya menjadi seorang pemulia bangsa, negara, dan orang tuanya. Tetapi... Si kecil ini harus berjuang keras agar dapat bertahan hidup dengan mengorbankan masa kecilnya yang seharusnya indah.
Kawan... Masih banyak yang kekurangan di luar sana. Boro-boro sekolah, makan pun sulit...
Maka, bersyukurlah kita masih hidup dalam kecukupan. Mau makan bisa, sekolah pun bisa, bahkan ketika kita perlu sesuatu yang harganya cukup mahal, orang tua masih bisa berusaha untuk memenuhinya.
"Nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan?"
Tuhan mengulanginya 31 kali. Kawan, janganlah kita sia-siakan nikmat dan rahmat Tuhan yang begitu luas. Bersyukurlah. Bersyukurlah dengan cara tidak menyia-nyiakan segala nikmat dan rahmatNya. Waktu, uang, kesempatan, dan masih banyak nikmatNya yang sangat sering sekali kita lupakan.
Ah kawan! Sudah hampir jam 10 pagi. Saatnya beraktifitas! Nanti kalau kita ada kesempatan, kita lanjutkan lagi pembicaraannya ya? Tentu saja di tempat yang sama :)
Pendidikan (1)
Label: Hardiknas, Pendidikan, tut wuri handayani
Ing ngarso sung tulodo
Ing madyo mangun karso
Tut wuri handayani.
Kau tahu apa arti dari kata-kata berbahasa Jawa tersebut? Biarkanlah kuterjemahkan.
"Di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan."
Itulah kurang lebih terjemahannya. Mungkin hanya kalimat akhirnya saja yang kau kenal, Tut wuri handayani, semboyan yang paling sering kita lihat di lambang Diknas. Yuk kawan, kita lihat ke dunia sekeliling kita, sambil beristirahat dari kepenatan jiwa ini.
Eh kawan, lihatlah koran hari ini. Banyak sekali sekolah yang fasilitasnya minim, ruangan rusak, sampai ada yang roboh karena memang sudah habis umurnya. Padahal anggaran dana yang dialokasikan untuk pendidikan sudah cukup besar, 20 persen. Tapi apa yang terjadi di lapangan? Tetap saja banyak fasilitas pendidikan yang tidak layak! Kemanakah dana tersebut melayang? Ke kantong "mereka"?
Haah, sepertinya anggaran dana 20 persen yang digembor-gemborkan hanyalah demi kepentingan politik semata. Selain fasilitas pendidikan yang buruk, pendidikan juga semakin mahal! Biaya masuk ke salah satu institut negeri yang terkenal di Bandung "hanya" 50 juta rupiah. Pendidikan semakin tidak ramah kantong. Bagaimana mau terwujud sebuah negeri yang maju jika pendidikannya saja sudah tidak baik? Pendidikan merupakan fondasi sebuah negara. Dan al-Qur'an telah dengan indah menyatakan pentingnya menuntut ilmu.
"Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui." (QS. 21:7)
Bukan hanya ayat ini saja yang menyatakan pentingnya menuntut ilmu. Masih banyak ayat-ayat al-Qur'an mengenai keutamaan menuntut ilmu. Jika kau mengeksplorasinya, pasti kau akan menemukannya, kawan.
Masih segar di pikiran kita kan, kawan? Beberapa waktu lalu kita mengikuti Ujian Nasional sebagai salah satu syarat kelulusan dari sekolah. Di ujian nasional, semua orang kemampuannya dianggap sama rata. Padahal, pembangunan pendidikan di Indonesia benar-benar tidak merata. Ada satu wilayah yang sekolahnya bagus-bagus, ada pula wilayah yang terpencil, yang tidak mendapat perhatian pemerintah, tetapi dipaksa ikut UN. Tidak aneh jika kemudian banyak siswa-siswi yang stres, bahkan sampai masuk rumah sakit. Betapa mengerikannya, bukan?
Meskipun pemerintah mengklaim tidak ada masalah pada UN, terutama mengenai kebocoran kunci jawaban, berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di lapangan. Kunci jawaban beredar dengan bebas, lewat SMS, lewat BBM, lewat media yang bisa "dirahasiakan". Selain itu, pada beberapa sekolah Lembar Jawaban Komputer (LJK) memiliki kualitas yang kurang baik. Tinta yang meleber, kertas yang rusak dan tinta yang menipis ketika dihapus menjadi kendala tersendiri bagi siswa yang menghadapi UN. Bisa jadi, jawaban mereka banyak yang benar, tetapi mereka tidak lulus karena faktor apapun yang berkaitan dengan LJK.
....
Langganan:
Komentar (Atom)
