Note menjelang tidur

Berhenti ayunkan pena, hentikan tarian jemari di atas keyboard. Jadilah debu di atas muka bumi yang diterbangkan angin, bahkan keberadaannya pun tak pernah diketahui.

Seorang anak bupati telah berhasil membuatku gelisah akan kewajiban menulis, terutama sebagai makhluk yang sering kali dianggap "terpelajar". Pak dosen semester kemarin mengingatkan agar tak pintar untuk diri sendiri. Bahasaku terlalu baku buku, interpretasi maknawi berdasarkan susunan kata yang disampaikan oleh komunikator itu.

Ah, kumakan buku-buku itu hingga pada akhirnya aku jenuh dan terhenti untuk kembali mengunyahnya. Buat apa semua ini? Yang kukunyah hanyalah buku-buku ilmiah teoritis. Gerah rasanya, lelah. Bosan. Setelah aku paham semua teori, lalu apa? 

Dulu saya sempat skeptis. Buat apa baca novel? Toh tak ada manfaatnya. Itu semua hanya mengembangkan imaji dalam otak sampai-sampai kau tak bakal mampu berpikir logis. Untuk apa baca cerpen? Memang ada manfaatnya? Buat apa baca puisi? Mau belajar jadi cengeng? (Tapi anehnya saya masih saja senang mendengarkan musik saat itu, kadang yang melau galau.)

Hidup kaku tak pernah ada warnanya. Itulah hidup tanpa sastra. Karena literasi tanpa sastra rasanya percuma saja; kau akan kebingungan menyampaikan apa yang telah kau ketahui dengan bahasa semua bangsa. Sastra memberikan pelajaran bagaimana menyampaikan dari hati, dan apa yang disampaikan dari hati akan sampai kepada hati pula. Tak peduli pakai bahasa manusia manapun, selama orang baik hati masih ada di dunia.


(Ini unek-unek mau tidur, jadi sepertinya perlu usaha ekstra untuk memahaminya. Selamat malam!)

0 komentar:

Posting Komentar

 
talking magnets, imagining pixels © 2016 | Designed by Chica Blogger, powered by Blogger | Back to top