How stupid I am...
Teguran karena kebodohanku sekarang terasa. Betapa bodohnya aku. Betapa bodohnya aku di masa lalu yang mengabaikan perasaan orang lain. Aku yang hanya peduli akan nafsuku sendiri. Aku memainkan perasaan yang sama sekali bukan mainan. Perasaan yang orang menjadi hidup karenanya, aku permainkan.
Tak mampu menjaga hati, nafsu mengambil alih. Jadilah aku sosok yang hanya bisa mempermainkan perasaan. Walaupun ada satu perasaan yang serius, kecewa yang menyenggol sedikit mengubah arahku. Hampir aku memenuhi jalan menuju satu arah, satu senggolan kecil membuatku bergeser. Dan hingga akhirnya, aku tak pernah mencapai tujuan. Hanyalah bermain-main.
Kalau kuingin menyalahkan, mengapa tak pernah ada yang memberitahuku? Kemana aku harus melangkah, yang mana harus kupilah? Namun, menyalahkan orang lain hanyalah untuk melindungi ego. Takkan pernah ia menyelesaikan masalah, yang ada menambah. Menambah suram hidup, karena siapa yang suka dengan orang yang berego tinggi? Kalaupun ada, mungkin hidup akan bertambah suram dengan dikelilinginya.
Kini, karma harus kuterima. Tak kurasakan lagi kenikmatan itu. Meski aku serius, namun keseriusanku hanya akan dianggap mempermainkan lagi. Baik oleh orang lain, terutama diriku sendiri. Yang ada dalam diriku kini hanyalah perasaan takut. Takut menyakiti. Dan aku melindungi diri dan berusaha menebus dosaku. Jika tidak benar-benar menyentuh hati, menjauhlah. Atau, akulah yang menjauh. Aku tak ingin mengulangi kesalahanku lagi. Aku tak ingin menjadi lagi aku yang dalam kebodohanku itu.
Maafkan aku, meski penyesalan sudah tidak akan bisa memperbaiki keadaan. Jalan yang kutinggalkan sudah roboh; tak bisa aku kembali dan melangkah ke sana. Lalu, kemana aku harus menuju?

0 komentar:
Posting Komentar