Sabtu

Di hari sabtu, aku kembali ke masa lalu. Kubuka kembali lembar-lembar hidup yang lalu dan bernostalgia dengannya. Seolah, aku hidup lagi di masa-masa menyenangkan itu. Sejenak melupakan masa kini yang penuh dengan hiruk-pikuk yang membuat hati ini sakit dan lelah dalam 6 hari lainnya.

Di hari sabtu, aku tak pernah ingin terkoneksi dengan internet. Dan sekalinya terkoneksi untuk melakukan apapun itu, void-lah hari sabtuku. Hilang hari sabtu itu, seperti hilangnya kesempatanku untuk berhari sabtu. Dan ini terjadi sabtu ini. Sehingga, kukirimkan saja kegelisahanku. Sudah tanggung sabtu-ku void.

Sabtu ini, aku kehilangan kesempatan ini. Tak bisa aku melaksanakan hari Sabtu seperti yang kuharapkan. Sedangkan, enam hari yang lalu sangat membuat hati ini sakit dan lelah. Tak kutemukan satu hari pun dalam enam hari itu yang membuatku senang. Dan, enam hari kedepan dipenuhi kecemasan. Terutama dari sisi pekerjaan.

Di hari Sabtu aku "kembali ke masa lalu". Jika tidak ada hari Sabtu seperti itu, aku hampir yakin enam hari kedepan akan menjadi neraka. Aku akan kehilangan semangatku. Kecemasan akan semakin mencekik. Aku tak sempat pulang ke masa menyenangkan itu.

Dadaku sesak. Enam hari kedepan, tekanan pekerjaan pun akan ikut juga naik. Aku tak tahu apakah aku akan sanggup menghadapinya, atau apakah jiwaku akan tumbang di tengah hari-hari itu?

Dan rasanya ingin kutemukan pekerjaan yang bisa membuatku bahagia. Bekerja di bidangku kini rasanya menyenangkan, namun menyisakan bolong besar dalam dadaku. Menumbuhkan kecemasan dalam hati dan pikiran. Dan, perasaan digantung mengenai kejelasan pekerjaanku pun hingga kini dipertanyakan. Aku tak tahu apa yang akan terjadi ke depan.

Ya... Aku sangat rindu masa lalu; masa aku kecil, masa aku remaja. Tak pernah aku merasakan kekhawatiran yang menyesakkan dada seperti ini. Semoga sabtu depan tak terganggu lagi, tidak lagi seperti sabtu ini.

0 komentar:

Posting Komentar

 
talking magnets, imagining pixels © 2016 | Designed by Chica Blogger, powered by Blogger | Back to top