Alkisah di sebuah desa kumuh yang terpencil di pinggiran Kota Bandung, ada sebuah keluarga yang hidupnya menyedihkan. Keluarga itu memiliki 8 anak. Sang kepala keluarga hanyalah seorang pemulung yang hasil hariannya tak seberapa, bahkan hanya cukup untuk makan bagi dirinya sendiri. Sang Ibu, bekerja sebagai buruh cuci harian, yang tidak tetap kerjanya. Beliau bekerja hanya jika ada yang memintanya. Kedelapan anaknya, 6 diantaranya telah menikah tetapi masih satu rumah dengan orang tuanya. Hanyalah tersisa satu anaknya yang cacat, dan satu lagi yang normal.
Setiap hari, ibunya selalu menasihati anak-anaknya, "Nak, meskipun hidup kita amat pas-pasan, hanya bisa makan nasi garam, tetaplah bersyukur. Allah selalu bersama kita. Mungkin kelak, kita akan hidup bahagia, tetaplah bersyukur ya Nak."
Ayah dan ibunya memang dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai orang yang saleh(ah). Ayahnya tidak pernah ketinggalan shalat berjamaah di mesjid. Ibunya merupakan seorang guru mengaji di mushalla dekat rumahnya.
Indra dan Andi, merekalah dari 8 bersaudara yang belum menikah. Indra masih mengenyam pendidikan di jenjang SMA kelas 2, dan Andi SMA kelas 3. Andi merupakan salah satu siswa berprestasi di sekolahnya. Dia pernah memenangkan lomba olimpiade biologi tingkat internasional saat kelas 1 SMA bersama teman-teman lainnya, sehingga karena prestasinya itu, dia gratis bersekolah selama 3 tahun. Meskipun hanya seorang anak pemulung dan buruh cuci, dia selalu bersyukur akan apapun yang dia miliki.
Sedangkan Indra, merupakan penyandang cacat. Hanya sebelah tangannya, tepatnya tangan kanan saja yang normal. Sehingga ia sering mendapat caci dan makian di sekolahnya. Meskipun begitu, dia tak pernah patah semangat, karena dia melihat kakaknya yang berprestasi di sekolahnya. "Kakakku juga bisa, aku juga harus bisa!" Dia bersyukur meskipun dia cacat, tetapi dia memiliki seorang kakak yang selalu mendukungknya, dan cerdas.
-
Suatu hari dalam klise kehidupannya, Indra bertanya kepada Ibunya.
"Bu, mengapa kita harus bersyukur? Lihatlah, aku cacat! Aku tidak seperti teman-temanku yang lain, yang tangannya sempurna! Apakah aku dilahirkan untuk dihina? Allah tidak adil!!" Ronta Indra kecil yang saat itu masih duduk di bangku SMP kelas 3.
"Keadaan seperti ini merupakan anugerah Allah, nak. Kau tidaklah cacat. Allah memberikan seluruh manusia dengan nilai kemampuan yang sama. Ada yang dikurangi setengah di satu sisi, tetapi selalu ditambah setengah di satu sisi. Meskipun kau hanya punya satu tangan, tapi tanganmu itu memiliki kemampuan yang lebih dibandingkan tangan-tangan orang lain. Bersyukurlah nak, kaulah salah satu yang menerima anugrah Allah."
Indra pun merenungi kata-kata ibunya.
"Tapi, mengapa kita harus hidup dalam keadaan miskin?" tanya Indra
Ibu pun tersenyum. "Nak, lihatlah ke bawah. Masih banyak yang keadaannya lebih menyedihkan daripada kita. Ada yang tinggal di pinggir jalan, ada yang hanya memakan nasi aking. Kita? Alhamdulillah nak, kita masih bisa makan dengan nasi yang bagus, kadang kita bisa makan dengan lauk."
Anak itu terdiam.
"Nak, kau tahu bagaimana cara menambah rejeki?" tanya sang Ibu.
"Apa itu, bu?" tanya Indra
"Bersyukurlah, dan saling memberi. Meskipun kita miskin, tetaplah saling memberi. Karena memberi itu merupakan salah satu wujud syukur. Allah berjanji akan menambah rejeki bagi orang yang bersyukur."
“Sesungguhnya orang-orang lelaki yang bersedekah dan orang-orang perempuan yang bersedekah, serta mereka memberikan pinjaman kepada Allah, sebagai pinjaman yang baik (ikhlas), akan digandakan balasannya (dengan berganda-ganda banyaknya), dan mereka pula akan beroleh pahala yang mulia. (Al-Quran Surah al Hadid, Ayat 18)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar