Ibu...
Label: Ibu, melahirkan, perjuangan, persalinanAku kini berada di sebuah rumah sakit bersalin di Jalan Sumatera, Bandung. Aku pertama kali ada di sini sejak pukul 1:30 pagi. Ketika 10 menit sebelumnya, kakakku yang sedang hamil merasakan "mules", yang, menurut kepercayaan kami, sebagai tanda sebentar lagi akan melahirkan. Ketika diberitahu demikian, aku langsung melek, hilang rasa kantuknya, dan tancap gas dari rumah ke rumah sakit ini.
Kakakku hingga tulisan ini dibuat belum melahirkan, tetapi sudah mulai pembukaan kedelapan. Kedelapan dari sepuluh. Rasa mules mulai beralih menjadi rasa sakit yang membuat orang di sekitarnya ikut pilu juga. Yah, karena mendengar pilu itu, aku menjadi termotivasi untuk menulis ini.
Ibu, siapa sih yang tidak mengenalnya? Dialah wakil Tuhan yang Pengasih lagi Penyayang di muka bumi ini. Dialah yang melahirkan kita, mengurus kita, membesarkan kita. Yah, meskipun kadang menurut kita, ibu kita itu "bawel", "jahat" dan sebagainya, hatinya tidak berniat demikian. Mungkin karena kelepasan, tidak sengaja. Menjadi ibu bukanlah sebuah pekerjaan yang ringan, apalagi yang juga mencari nafkah. Lelah, letih, lesu. Tapi tahukah kalian? Dengan senyum kalian yang menyambutnya, itu sudah cukup untuk menghilangkan 3Lnya.
Ah, dahulu aku hanya mendengarkan "katanya", katanya melahirkan itu sakit, katanya melahirkan itu adalah menantang maut, katanya, dan katanya. Sehingga aku sering kali menyepelekannya. Aku adalah orang yang tipikalnya cenderung kurang percayaan kalau belum merasakan dan menyaksikannya. Kini, aku menyaksikan dengan mata, kepala, dan perasaanku sendiri.
Di dalam ruang HCU (High Care Unit), begitu banyak selang yang menempel kepada kakakku. Selang oksigen, selang infus, semuanya selang penyambung kehidupan. Ia mengeluh, "sakit!", berulang kali, menggenggam lengan ibuku dengan kuat sekali. Terbayang sakitnya. Ada yang bilang, skala sakitnya orang yang melahirkan itu 15 dari 10. Mungkin jauh lebih gila lagi dari yang kubayangkan. Dan mungkin inilah yang dimaksud dengan “menantang maut”
Mungkin, ibuku dahulu seperti itu. Betapa repotnya mengandungku dan sakitnya melahirkanku. Perjuangannya yang hebat selama 9 bulan, hanya demi aku terlahir ke dunia ini dengan selamat, sehat, tanpa memedulikan dirinya sendiri yang menantang maut. Pasti, seorang perempuan ketika melahirkan diantara hidup dan mati, dan condong kepada kematian. Sakitnya, hebat, mungkin tak ada obat bius yang secara 100% menghilangkan rasa sakit ini. Kalaupun ada pastilah bisa menyebabkan keburukan bahkan kematian.
Alhamdulillah, ibuku selamat ketika melahirkanku, dan kini ia mengurusku hingga aku sebesar ini. Tetapi aku kini sadar, aku memperlakukan ibuku dengan tidak baik. Aku kadang memarahi ibuku, padahal ibuku tidak tahu apa-apa, atau bukan maksud berbuat buruk. Kadang aku mengabaikan ibuku, tetapi ibuku memperhatikanku dengan penuh kasih sayang, hingga ketika aku sakit ia rela tidak tidur berhari-hari, hanya untuk menungguiku, dengan harapan aku cepat sehat.
Ya Allah, aku sadar kini, betapa hebatnya perjuangan sang ibu. Ibu tidak mengharapkan balasan apapun dari anaknya kecuali keberhasilan anaknya dalam kehidupan. Aku harus mulai semakin menghargainya, menyayanginya, ya, berbalas budi! Meskipun budi sang ibu tak akan pernah terbalas hingga kapan pun, aku tetap akan memberikan yang terbaik yang kubisa, kuharap ia bahagia dengan apa yang kuberi.
Kasih ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa...
Hanya memberi
Tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia...
image taken from http://srhelena.blogspot.com/2012/05/mothers-love.html
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar