Itulah yang aku dengar, suara yang mengiris hati. Seorang anak kecil yang berusaha merebut hatiku agar aku memberikan selembar uang ribuan kepadanya. Sayang, di saku saat itu hanya ada satu koin uang 100 rupiah. "Kalau dikasihin ngga enak, kalau ngga ngasih sama-sama ga enak, yaudah", tanpa pikir panjang aku langsung menolaknya, "maaf", dan mencari ATM terdekat untuk membayar infak, untuk mengalahkan rasa berdosa.
Hasilnya, terbentuk ikatan batin yang begitu kuat diantara kami dan warga sekitar. Aku masih teringat ketika kami sudah habis "masa kontraknya" dan harus kembali ke Bandung, ada salah satu warga yang tidak ingin kami pergi, bahkan sampai ada yang menangis dan memeluk erat salah satu dari kami hingga tidak mau melepaskan dia.
Satu hal yang didapat, betapa perlunya kita berbakti kepada kaum mustadh'afin, mereka yang terlemahkan. Merekalah ladang pahala bagi yang memiliki kemampuan. Rasulullah saaw, yang merupakan panutan kaum muslimin, senantiasa dekat dengan kaum fuqara (para fakir) dan masakin (para miskin). Sampai beliau pernah bersabda, "Carilah aku ditengah kaum fuqara dan masakin". Aku tersadarkan, masih banyak yang makan saja susah, tapi aku sendiri kalau bersyukur suka susah...
Yah, kembali lagi ke judul, Anak Jalanan. Setiap kali aku menyusuri kota Bandung, bukannya tidak mungkin untuk menemukan mereka. Kondisinya memprihatinkan. Mereka lusuh, semerbak, dan terlihat sangat tidak terurus. Bahkan ada yang kelakuannya beringas (karena minim kasih sayang, sehingga ada bagian otaknya yang tidak berkembang sempurna, dan mempengaruhi faktor psikologis juga).
Apa kabar pemerintah? Anak jalanan dilindungi negara!, bukankah begitu? Iya! Harusnya pemerintah bertanggung jawab atas anak jalanan. Pemerintah ini bagaimana sih? Anak jalanan dibiarkan terlantar begitu saja. Mereka kelaparan, mereka butuh makan, kok pemerintah cuek banget sama anak jalanan?
Ups, sebelum menyalahkan pemerintah, lihatlah diri kita sendiri. Sudahkah kita baik? Sudahkan kita mencintai mereka, kaum mustadh'afin termasuk anak jalanan di dalamnya? Aku yakin belum, termasuk diriku sendiri.
Banyak diantara kita yang kenyang sampai wareg teuing (terlalu kenyang -bahasa Sunda-), tapi mereka makan sesuap nasi saja susah, sampai mereka memulung nasi bekas dan mendaur ulang nasi tersebut menjadi makanan yang dikenal sebagai nasi aking.
Banyak diantara kita yang bolos sekolah, padahal di sisi lain banyak anak jalanan yang ingin sekali menikmati yang namanya sekolah, yang namanya belajar, tapi apa daya, mereka tidak mampu karena faktor finansial.
Banyak diantara kaum remaja yang ke tempat dia menempuh pendidikan menggunakan kendaraan mahal nan bising, tetapi sesampainya di sekolah... Belajar tidak bolos iya malah ngerumpi tidak bermanfaat. Apakah mereka tidak berpikir, ada dua sisi yang lain. Sisi yang pertama adalah orang tuanya yang susah payah membanting tulang untuk mencari rezeki, menyekolahkan anaknya di sekolah yang layak dan memberikannya kendaraan agar mobilitasnya lancar dan pendidikannya juga lancar, dan sisi yang lain ada anak-anak sebayanya yang harus jalan kaki berkilometer jauhnya, melalui medan ekstrim dan bersekolah di sekolah yang minim fasilitas, bahkan mereka berada didalam risiko kematian karena gedungnya yang sudah mau ambruk.
Apa yang harus kita lakukan?
Jangan dulu menyalahkan orang lain, karena itu tidak akan menyelesaikan masalah, malah bisa-bisa akan menambah panjang daftar masalah.
Menurut aku hanya ini: mengayomi, mencintai, dan memberdayakan kaum mustadha'fin. Memberdayai bukan berarti mengeksploitasi, tetapi menghilangkan status mustadh'afin dari mereka dengan memberinya pekerjaan yang layak, dan keterampilan, disertai dengan upah yang memadai.
Banyak diantara kita yang tidak mencintai kaum mustadh'afin, malah cenderung membencinya dan melecehkannya. Ada saja yang bilang kalau mereka "biang penyakit", tetapi sebenarnya merekalah yang suka rela membersihkan got agar tidak mampet dan tidak menjadi sumber penyakit. Belum tentu kita yang "bersih" mau melakukan itu, bukankah begitu?
Cintailah kaum mustadh'afin, maka kau akan dicintai Rasulullah, dan kelak kau akan meraih cinta Allah...
I've been down
Now I'm blessed
I felt a revelation coming around
I guess its right, it's so amazing
Everytime I see you I'm alive
You're all I've got
You lift me up
The sun and the moonlight
All my dreams are in your eyes
I wanna be inside your heaven
Take me to the place you cry from
Where the storm blows your way
I wanna be earth that holds you
Every bit of air you're breathin' in
A soothin' wind
I wanna be inside your heaven
When we touch, when we love
The stars light up
The wrong becomes undone
Naturally, my soul surrenders
The sun and the moonlight
All my dreams are in your eyes
And I wanna be inside your heaven
Take me to the place you cry from
Where the storm blows your way
And I wanna be the earth that holds you
Every bit of air you're breathing in
A soothing wind
I wanna be inside your heaven
When minutes turn to days and years
When mountains fall, I'll still be here
Holdin you until the day I die
And I wanna be inside your heaven
Take me to the place you cry from
Where the storm blows your way
I wanna be inside your heaven
Take me to the place you cry from
Where the storm blows your way
I wanna be earth that holds you
Every bit of air you're breathin' in
A soothin' wind
I wanna be inside your heaven
Oh yes I do
I wanna be inside your heaven
Masih ingin melihat yang lain menderita?
Masih ingin melihat yang lain meminta belas kasihan?
Masih ingin melihat mereka mati sia-sia karena kelaparan?
Jika iya, berarti Anda seorang psikopat.
"Every changes in this world begin from you, not from them. Don't blame others"
Song: Bo Bice - Inside your Heaven
Photo: http://sosbud.kompasiana.com/2010/01/21/tolak-razia-dubur-anak-jalanan/

1 komentar:
saya bukan psikopat..
--------
please follow Blog Augie :)
Posting Komentar