HP jadul

Belakangan Nokia bangkit lagi. Selain jualan HP Android, juga mereka jualan HP klasik. HP klasik suka dibilang hp jadul, feature phone, atau dumb phone.

Saya pertama pakai HP masih hitam putih dengan nada turanat turinit. Pertama pakai HP, dalam artian pertama ngoprek HP. Walaupun masih kecil, saya suka ngoprek barang-barang elektronik. Masih inget dulu, hp Motorola (seri v berapa gitu) dengan kartu proXL yang bening. Kalau boleh jujur, perdana jadul keren-keren. Wadahnya ada yang pakai boks metal, plastik tebal, dll. Desainnya juga unik-unik, banyak bukunya juga. Beda jauh dengan sekarang yang cuma kartu dilapis kertas. Plastik aja udah bagus banget.

Kembali lagi. Saya kepikiran untuk kembali ke HP klasik. Sebetulnya, tahun kemarin sempat off smartphone dan pakai hp jadul selama sebulan. Asli, di awal banyak kekhawatiran tetapi ke sininya malah jadi lebih nyaman, dan kekhawatiran itu hilang. Ada kenyamanan tersendiri yang kalau diceritakan, bisa jadi panjang (nanti kuceritakan). Walaupun, meski begitu, ada saja konsekuensinya. Misalnya, kelewatan berita dari WhatsApp. Banyak yang terjadi ternyata, dan ketika mengaktifkan kembali WhatsApp, chat ngaburudul. Dan salah satunya ada kesempatan berharga, sayang terlewatkan.

Tapi, satu-satunya yang menghalangi saya untuk balik ke dumbphone cuma WhatsApp. Kalau WhatsApp sudah bisa di desktop atau laptop tanpa harus aktif smartphone, mungkin saya hanya bakal menenteng laptop dan hp jadul itu. Dan mungkin, MiFi. Dan ketika laptop sudah ditutup, disitulah saya hidup di dunia nyata.

Semoga whatsapp bisa aktif tanpa smartphone. Kalaupun tetap ga bisa, saya mau coba emulator.

0 komentar:

Posting Komentar

 
talking magnets, imagining pixels © 2016 | Designed by Chica Blogger, powered by Blogger | Back to top