Satu

Ketika saat terakhir manusia sebelum ia terlahir ke alam dunia, manusia berdialog dengan Tuhannya. Membicarakan perjanjian antara dia dan Dia. Manusia disodorkan perjanjian, agar di dalam hidupnya ia melakukan perbuatan baik, tidak melakukan perbuatan buruk.

Dan, tidak melupakan Dia.

Dia tidak ingin dia mempersekutukan cintaNya. Seperti seorang kekasih terhadap pasangannya, “jangan khianati cinta kita”. Cinta haruslah saling mengingat. Sebagai sarana mengingatNya, dia telah menurunkan kepada manusia: ibadah, wakilNya, dan kitabNya.

“Maukah kau menandatangani kesepakatan diantara Kita, hai manusia?”

Manusia mengangguk dan menandatangani kesepakatan ini. Segera setelah itu, manusia bergerak menuju pintu gerbang menuju dunia. Manusia menilik ke belakang. “Hai manusia, jangan kelak kau lupakan Aku. Aku akan selalu memberikan cintaKu dengan keMaha PemurahanKu. Ingatlah cintaKu padamu hingga kelak kau kembali ke haribaanKu, Aku akan merindukanmu. Jadilah manusia yang baik dan mencintai sesamamu. Bahagiakanlah sesamamu. Janganlah kau lupakan Aku.”

“Hai, manusia. Aku berikan kau satu. Kau bisa membagi satu itu menjadi yang kau mau. Bijaklah membagikannya, hai manusia. Bahagiakan sesamamu, janganlah kau melupakan Aku.”

Manusia kembali mengangguk, dan dia menuju pintu, memasuki alam dunia…

….

Terlahirlah seorang bayi laki-laki ke dunia. 13-04-1980. Rahmat Akbar. Terlahir dengan fisik sempurna tanpa cacat. Orang tua bahagia akan kelahiran. Ia membawa cahaya harapan bagi keluarganya, agar kelak ia menjadi seorang pemuka agama yang menerangi dunia ini.

Satu, dua, tiga tahun… Empat, lima, enam tahun kemudian, dia berkembang menjadi seorang anak yang baik, cerdas, dan taat beribadah. Dia memasuki usia sekolah. Dia menuntut ilmu di sebuah Sekolah Dasar di dekat rumahnya. Dia menjadi anak yang berprestasi di sekolahnya. Semua guru kagum oleh kemampuan, kebaikan, dan keshalehannya. Dia selalu menjadi juara pertama di kelas.

Kini dia berumur 12 tahun.

Luluslah ia dari SD, melanjutkan jenjang pendidikannya ke salah satu SMP terbaik di kota tersebut. Dia mulai mengenal pergaulan, baik di dalam SMP tersebut, baik di luar. Dikenal akan kemudahannya bersosialisasi sehingga wajar Ahma, begitulah ia disapa akrab, meliliki banyak teman karena kesupelannya. Tetapi sayang, dia belum mampu membedakan mana teman yang membawanya pada kebaikan. Kelas 1 SMP, dia berprestasi. Kelas 2, prestasinya mulai menurun. Dia banyak tidak hadir tanpa alasan. Kelas 3, nilainya semakin anjlok, semakin banyak tidak hadir tanpa alasan dalam daftar hadir.

Ibunya menangis di dalam shalatnya. “Ya Allah, ada apa dengan anakku ini? Pada mulanya, ia adalah seorang yang baik, menghormati orang tuanya, berprestasi… Tapi kini, anakku mengabaikan kami, prestasinya memburuk, dia berkelakuan tidak baik… Ya Allah, berilah kami kesabaran dan petunjuk untuk menghadapinya… Wahai yang Maha Membalikkan Hati Manusia, buatlah anak kami menjadi sedia kala, seperti dahulu lagi…”

Ahma terpengaruh oleh rekan-rekannya yang iri akan prestasinya. Mereka menjerumuskan Ahma ke dalam jurang, dan mempersulitnya untuk kembali ke permukaan dengan licinnya kenikmatan berada dalam jurang tersebut. Dan berlanjut hingga dia menimba ilmu di sebuah SMA swasta.

Anak itu semakin dalam terjerumus. Di SMA, dia mulai berkenalan dengan rokok, dan semakin lama semakin akrab dengan menghisap rokok. Di kelas 3 SMA, Akma telah berani membolos demi merokok, hingga pada akhirnya tindakan Akma itu dipergoki oleh seorang guru dan terancam dikeluarkan oleh sekolah. Dan ibunya semakin sedih melihat kondisi anaknya tersebut, apalagi sebentar lagi dia menghadapi Ujian Nasional

Satu bulan menjelang Ujian Nasional, Akma mengalami kecelakaan lalu lintas. Dia mengalami koma selama empat hari. Tak sadarkan diri. Ibu dan ayahnya hanya bisa pasrah, berdo’a kepada Allah agar disegerakan kesembuhan Akma. Pada hari ke lima, tidak ada detak jantung, Akma divonis oleh dokter bahwa dia meninggal dunia. Kesedihan meluap di dalam hati kedua orang tuanya. Tidak percaya anak semata wayangnya telah tiada.

---

Akma mengalami mati suri. Di dalam mati surinya, dia bertemu dengan Tuhannya…

“Hai manusia, kenapa kau mengkhianati perjanjian Kita pada waktu kau akan pergi ke alam dunia? Padahal kau sudah berjanji tidak akan melupakanKu. Kau sudah berjanji padaKu untuk berbuat baik dan membahagiakan sesamamu. Kau sudah berjanji padaKu untuk meninggalkan segala keburukan?”

Akma hanya terdiam, membisu…

“Kau terpengaruh oleh setan dan iblis. Kau mengabaikan kitabKu, wakilKu, dan ibadah. Kau mengabaikanKu. Kau lebih memilih untuk memenuhi hawa nafsumu, ketimbang mengingatKu melalui kitabKu, wakilKu, dan ibadah. Kau telah menyalahgunakan satu yang kuberikan dengan membaginya kepada hal-hal yang buruk, hal-hal yang tidak Kusukai.”

Mata dia mulai berkaca-kaca, menyesali segala perbuatannya selama di dunia.

“Hai manusia, bukankah Aku telah berfirman dalam kitabKu; ‘Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari kasih sayang Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’. Tahukah kau bahwa Aku begitu mencintaimu?”

“Akan aku berikan kesempatan kedua. Kini, ingatlah perjanjian di antara kita, jangan kau lupakan. Kau sepakat?”

Akma menganggukkan kepalanya

“Sekarang, pergilah kembali ke dunia. Mohonkanlah maaf kepada kedua orang tuamu. Bertaubatlah, tinggalkan segala keburukan. Jangan lupakan perjanjian kita. Baca dan pahamilah kitabKu, cintailah apa yang Aku cintai. Kumpulkanlah pecahan satu tersebut, kemudian kau bagi kepada hal-hal yang baik.”

Ia mengagguk lagi dan berbalik menuju pintu ke alam dunia.

----

Setelah divonis meninggal selama 5 jam, ditutupi oleh selimut, dari jasad tersebut keluar suara “bunda, ayah…” berulang-ulang. Sontak yang berada di sana kaget, dan menghampiri jasad tersebut. Dan ternyata Akma hidup kembali. Vonis dokter yang menyatakan akma telah meninggal ternyata salah. Dia hanya mati suri.

“Bunda, ayah, kemarilah…” suara parau Akma

“Ayah, bunda, aku minta maaf. Selama ini aku telah mengecewakan kalian. Aku sering membolos sekolah demi hal yang tidak-tidak. Nilaiku buruk, aku kehilangan prestasi, aku mengecewakan kalian. Aku sekarang sadar, semua yang kulakukan tidaklah baik. Maaf, maafkan aku…”

“Nak, bunda dan ayah melihat kau hidup kembali sudah sangat bersyukur. Jangan kau mengulangi yang seperti dahulu lagi ya? Bunda dan ayah sangat sayang padamu…”

“Iya bunda, iya ayah…”

----

Akma, dalam waktu singkatnya selama sebulan mampu mengejar ketertinggalannya selama tiga tahun di SMA. Dia memperoleh hasil yang memuaskan pada Ujian Nasional, dan diterima di salah satu PTN terbaik di Indonesia.

<1>

0 komentar:

Posting Komentar

 
talking magnets, imagining pixels © 2016 | Designed by Chica Blogger, powered by Blogger | Back to top