Ini bukan kali pertamanya aku off media sosial (atau, off smartphone). Sebelumnya pernah sebulan saya tidak aktif media sosial manapun, termasuk IM WhatsApp. Dan pada suatu hari aku harus kembali mengaktifkannya, dan betapa menyesalnya ada satu kesempatan kerja yang terlewat. Tapi aku dapat pola dan pelajarannya: setelah menerima email tentang satu kesempatan, aku harus tetap stand-by IM dan medsos, walau sekeras apapun terpaan anginnya. Dan, jangan overusage, aku harus sayang dengan diriku sendiri, baik jasmani maupun ruhani.
Di wabah COVID-19 sekarang ini, bagiku berinteraksi malah jadi lebih melelahkan. Alasannya, karena aku tak bisa bertemu langsung dengan orang yang berbicara denganku. Berbicara tentang diriku, aku dulu memang sangat malu untuk ketemu orang secara langsung dan lebih memilih komunikasi lewat teks. Tapi kini terbalik, aku lebih nyaman bertemu langsung daripada komunikasi lewat teks. Pesan moral: orang pasti senantiasa berubah, dinamis. Dan itu hal yang baik, jika dilalui dengan baik.
Kenapa lebih nyaman bertemu langsung? Berbicara komunikasi pasti akan ada yang namanya komunikasi verbal dan non-verbal. Verbal itu kata-kata, sekarang ini aku sedang berkomunikasi secara verbal dengan dirimu, dan ketika kau memberikan komen di artikel ini, komunikasi kita menjadi dua arah. Lebih sederhana memang, dan karena sederhananya, komunikasi verbal yang verbal saja sering salah diartikan. SAYA DIKIRA NGAMUK PADAHAL KELINGKING KETIDURAN DI TOMBOL SHIFT. Dan juga, belakangan sedang rame tentang perbedaan arti kata, ya toh?
Komunikasi non-verbal lah yang memberikan nuansa dalam komunikasi. Dan ketika komunikasi hanya verbal saja, aku sering kelelahan menerka non-verbal ini. Misalnya, di tengah percakapan lawan bicara berhenti membalas. Banyak kemungkinannya kan? Kalau bertemu langsung, akan ada cue dari komunikasi non-verbal yang memungkinkan kita membaca apa yang ada dalam hatinya. Oh dahinya kerung, mungkin ia kesal pada kita, maka kita perlu meminta maaf agar persahabatan tetap terpelihara. Btw ada toh, orang yang kesal tetapi memilih diam tak berkata; tetapi warna wajah tak akan pernah bisa berbohong.
Asli, melelahkan. Walaupun misalnya video call, tetap akan ada nuansa dari non-verbal yang hilang. Apalagi kalau sedang rindu. Tak ada emoticon yang bisa menggantikan rasanya dipeluk erat.
Loh jauh toh, kembali ke
Semoga kita bisa segera saling bersilaturahmi dalam pertemuan!

0 komentar:
Posting Komentar